Sawah Pencerahan Agung Afgani

Lahan Menggapai Kebebasan Berpikir

Tanggapan Personal Terhadap Lagu Ahmad Dhani ‘Madu Tiga’: Hanya Sekedar Hiburan Bukan Penyebaran Ideologi.

Terus terang, ketika pertama kali mendengar lagu Madu Tiga yang dinyanyikan ulang oleh musisi besar Ahmad Dhani, saya langsung tertarik. Bukan karena apa, tapi lagu ini langsung membuai pikiran saya. Baik dari segi musikalitas maupun content-nya. Aroma swing begitu pekat terasa dalam lagu ini. Jujur saja, I like that very much! Sekali lagi Ahmad Dhani menunjukkan kecemerlangannya sebagai musisi dalam mengolah ulang lagu yang pertama kali muncul di Malaysia pada tahun 1962 ini. Dari segi muatan lagu, saya juga cukup terhibur dengan lirik lagu yang easy listening dan tidak bertele-tele. Apalagi ketika melihat video klip-nya, saya sampai tertawa terbahak-bahak.

            Namun seperti yang telah diprediksi sebelumnya. Rupa-rupanya ada beberapa gelintir orang yang memprotes kemunculan lagu ini. Beberapa LSM Perempuan langsung menyatakan keberatan atas penanyangan lagu ini. Mereka menganggap lagu ini merupakan spreading process of poligamy ideology. Dianggap ikut menganjurkan para pria untuk berpoligami. Kira-kira hal itu yang saya tangkap dari beberapa berita di televisi dan artikel. Yang jadi pertanyaan kemudian adalah apakah sampai sejauh itu? Apa benar lagu ini didanai oleh lembaga atau perseorangan untuk penyebaran ide-ide tentang poligami seperti yang dituduhkan oleh beberapa pihak tersebut? Menurut pendapat saya tidaklah sejauh itu polemiknya.

            Seperti yang telah saya ungkapkan di atas. Lagu ini kalau dianalisis liriknya secara tekstual, tidaklah mengajak pada poligami itu sendiri. Lagu ini sebetulnya merupakan, bisa dibilang, ‘curhat’ seseorang semata. Tidak ada nada ajakan untuk berpoligami sama sekali. Dari kasat mata saja kita sudah tahu tidak ada sama sekali provokasi tentang poligami. Yang kedua kondisi sosial budaya saat ini pun sangatlah berbeda dengan masa-masa sewaktu lagu itu dirilis untuk pertama kali. Saat ini kesadaran masyarakat tentang kesetaraan hak dan kewajiban antara pria dan wanita sudah cukup tertata. Feodalisme sebagai salah satu pemicu poligami pun sudah banyak berkurang. Intinya masyarakat saat ini sudah lebih cerdas dan bisa memilah-milah. Jadi apa masalahnya?

            Selanjutnya adalah kemunculan sintesis pribadi saya yang menemukan adanya poligamy syndrom akut pada pemrotes lagu ini. Mereka itu sangat alergi, atau mungkin jijik, terhadap apapun tentang poligami. Dari situ muncul kefanatikan yang luar biasa terhadap ide-ide mereka. Menurut mereka, barangkali, poligami itu sama najisnya dengan babi. Tidak ada kebaikan darinya, yang ada hanya kejelekan semata. Mereka menolak apapun dari poligami meskipun secara kenyataan hal itu mengandung kebaikan meski hanya sebesar atom sekalipun. Wah tindakan ini bisa dikategorikan lebih jahiliyah daripada kelakuan orang jahiliyah zaman Nabi SAW dahulu.

            Saya ingin menjelaskan tentang sesuatu hal mengenai poligami yang berasal dari nash-nash. Jika kita mengkaji kitab-kitab sejarah Islam kemudian menganalisis Qur’an dan Sunnah, justru dengan kemunculan ayat-ayat tentang pembolehan beristri maksimal empat itulah Tuhan mengatur dan membatasi syahwat manusia. Sebelum turun ayat tersebut, pria Arab (dalam konteks ini) cenderung seenaknya melepaskan syahwat seenak perutnya. Hal ini juga dipengaruhi oleh kultur dan kondisi sosial di jazirah Arab. Menurut saya, ayat ini cukup spasial. Karena terbukti untuk mengatur nafsu syahwat pria Arab yang telah kita ketahui bersama sangat tidak terkendali. Tapi ketika diterapkan di Indonesia, ayat ini jadi kurang berperan secara substansi. Karena Indonesia tidak punya tradisi pelepasan nafsu syahwat seperti orang Arab. Bangsa kita lebih kalem dalam hal ini. Di daratan Arab, setiap pria bisa memiliki istri lebih dari 50 orang. Tapi di nusantara ini? Hanya para feodal yang punya kemampuan demikian. Yang artinya juga masyarakat umumnya biasanya hanya punya satu istri saja. Bisa dikatakan juga bahwa negeri kita tak punya tradisi kuat untuk beristri lebih dari satu. Lalu kenapa muncul gejolak ini? Saya berpendapat bahwa para pro-poligami tidak cukup masif dalam mempelajari ayat-ayat yang cukup sensitif ini. Mereka itu saya sebut para skripturalis yang tidak belajar teks dengan komparasi sejarah yang lengkap dan berimbang. Namun saya juga mengkritik para anti-poligami, yang menurut pendapat pribadi saya, juga tak pernah paham bahkan antipati terhadap interpretasi teks itu sendiri. Sehingga nantinya yang ada hanyalah saling hujat satu dengan yang lain. Padahal saya percaya mereka sama-sama tidak mengertinya. Capek deh…

            Kembali lagi ke kasus lagu Madu Tiga di atas. Pada intinya saya sama sekali tidak menemukan hal-hal seperti yang dituduhkan oleh LSM Perempuan tersebut. Saya sempat menanyai beberapa ibu-ibu untuk saya minta tanggapannya tentang lagu ini. Banyak dari mereka yang berkata, “Lagunya bagus, Mas. Enak didengernya. Lucu lagi. Hehehehe…” Kemudian saya bertanya lagi, “Kan ini liriknya tentang upaya pembolehan poligami, Bu. Ibu tahu?” Mereka menjawab, “Ah, ga tuh. Saya tidak lihat sampai sebegitunya.” Nah!! Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya lagu ini just for entertainment, bukan tentang upaya-upaya pembolehan poligami. Ahmad Dhani pun telah mengakui hal ini. Menurutnya lagu ini juga segmented, hanya untuk para pria. Dhani pun secara jenius mengaransemen musiknya untuk sedikit menghilangkan potensi polemik lagu ini. Dia tahu bahwa lagu ini cukup polemis ketika beredar di masyarakat nanti. Tapi Dhani berkeyakinan, demikian juga saya, bahwa lagu ini hanya untuk menghibur. Bukan untuk mempopulerkan poligami. Toh banyak juga yang berpoligami sebelum tahu lagu ini. Bahkan tidak tahu lagu ini. So what??

 

Wallahua’lam bishawab…                                           

 

Catatan:

Tulisan hanya tanggapan pribadi semata. Tidak berarti saya anti-feminis atau pro-poligami. Jangan berpikir sampai sejauh itu. Toh dalam beberapa kasus yang melibatkan perempuan, seperti kasus Manohara Pinot, saya punya reaksi keras untuk membelanya. Karena saya yakin dia ini pihak yang terdzalimi oleh para aristokrat feodal Malaysia tersebut. Saya ingin menjadi sosok yang berimbang. Karena untuk itulah saya dididik sejak kecil. Do you get me?

Iklan

Mei 5, 2009 - Posted by | Tulisan-tulisan

1 Komentar »

  1. good view! objektif dan berimbang!

    Komentar oleh Ben | Mei 22, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: