Sawah Pencerahan Agung Afgani

Lahan Menggapai Kebebasan Berpikir

Kebebasan dan Toleransi di Indonesia, Apakah Hanya Mimpi Semata ?

Isa berkata kepada kaumnya: “Jangan berbicara banyak tanpa mengingat Allah, kalau tidak maka mengeraslah hati kalian; dan hati yang keras akan jauh dari Allah, tetapi kalian tidak mengetahuinya. Jangan menyelidiki dosa orang lain seolah-olah kalian itu tuan, tetapi selidikilah seolah-olah kalian itu hamba. Ada dua macam manusia: yang sakit dan yang sehat. Bersikap baiklah kepada yang sakit, dan berterimakasihlah pada Allah atas kesehatan.”[1]

 

 

            Puji syukur senantiasa terhatur pada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Tuhan sesembahan segala manusia. Tidak lupa shalawat serta salam selalu terucap pada Muhammad SAW beserta keluarga beliau yang suci. Dan semoga ridho Tuhan senatiasa terlimpahkan pada para sahabat Rasulullah, salafussalih, mujahid, mujtahid, pahlawan-pahlawan, pembaharu-pembaharu, dan pengikut setia ajaran Nabi Suci SAW.

            Kebebasan dan toleransi… Membaca dua kata ini sungguh hati kita menjadi kembali miris. Karena apa? Bukan karena kita tidak dapat memahami apa arti kata-kata tersebut. Tapi, kita sama sekali tidak dapat menjabarkan lagi apa makna luhur dua kata tersebut. Seperti yang kita ketahui bersama, jika kita menarik waktu kembali ke beberapa saat ke belakang, rasa-rasanya kita perlu untuk merenungkan lagi makna kebebasan dan toleransi itu. Bangsa kita tercinta, Indonesia, memiliki sejarah panjang tentang keelokan budi untuk bertoleransi. Bangsa kita mempunyai kearifan lokal yang sangat menjunjung tinggi kebebasan dalam segala hal. Konstitusi negara kita bahkan menjamin warganya untuk berkumpul, berpendapat, mengeluarkan pikiran, berbicara di depan umum, menjalankan kepercayaan yang dianut tanpa paksaan dari pihak manapun. Sejarah bangsa kita pun menorehkan dengan tinta emas tentang apa arti toleransi dan kebebasan itu. Kerajaan Majapahit adalah salah satu contoh negara yang mengakui 2 (dua) agama resmi yaitu Hindu dan Buddha. Tapi ketika muncul sebuah agama baru yang datang dari luar, negara Majapahit pun memberikan keleluasaan bagi Islam, nama agama baru tersebut, untuk berkembang. Tidak ada masalah bagi sang pemimpin negara, meskipun ada terbersit ketidaksenangan dari beberapa aparat negara. Itu hal yang lumrah-lumrah saja. Setiap pemeluk agama dijamin keberlangsungan untuk menjalankan kepercayaannya. Setiap warga negara negara dijamin segala hak hidupnya. Yang berjasa diberikan hadiah, yang bersalah dihukum sesuai tingkat kesalahannya. Tanpa kompromi dan tanpa KKN.

            Jika kita melihat dengan mata telanjang pun, kita akan banyak menemui nilai-nilai luhur toleransi dan kebebasan di Nusantara tercinta ini. Warga masyarakat yang berbeda keyakinan pun hidup berdampingan tanpa masalah tentang perbedaan mereka. Semua akur, adem ayem dan sejahtera. Suatu hal yang tabu bagi bangsa ini untuk mempermasalahkan kesukuan, agama, ras, maupun golongan secara chauvinistik. Tapi mengapa sekarang sangat berbeda? Mengapa di Indonesia terjadi pertikaian berlandaskan agama, suku maupun golongan? Ini sangat tidak lazim terjadi di bumi pertiwi dan tak pernah terjadi di masa lampau. Apa yang terjadi? Dan itu yang harus kita jawab.

            Kasus kekerasan Ambon, Poso, Sampit, hingga kasus Ahmadiyah tidak pernah terjadi di masa lalu. Kasus-kasus di atas ini kasus yang dilatarbelakangi (dengan paksa) agama dan kesukuan. Faktor yang sunnguh menjijikkan jika kita paham tentang makna dan arti kebebasan dan toleransi. Setiap agama besar di atas dunia ini senantiasa mengajarkan kebaikan. Islam, Kristen, Hindu, Buddha, hingga Zoroaster membawa ajaran tentang doktrin saling mengasihi sesama. Tapi mengapa ada seseorang (kelompok) yang tega merusak seorang (kelompok) yang lain. Kalau kita pernah membaca karya Karen Armstrong, Islam: A Short History, di situ dikemukakan bahwa Islam datang untuk meredakan tradisi barbar suku-suku di semenanjung Arabia. Tradisi chauvinistik yang membuat suku-suku itu bersifat arogan dan memerangi suku yang lain. Islam datang untuk menyatukan mereka di bawah satu bendera dalam kepemimpinan Muhammad SAW, dalam bahasa Armstrong, muncul satu ‘suku super’ baru bernama Islam. Tatkala Islam berkembang ke luar jazirah Arab pun, ia dengan serta merta bisa meminimalisir anarkisitas pemeluknya. Bukankah dalam salah satu dogma Islam menyebutkan bahwa agama ini datang untuk memperbaiki kehidupan manusia baik dunia maupun akhirat, dan agar supaya kita saling mengenal dan menghormati perbedaan yang ada. Dan itulah yang terjadi. Banyak bangsa-bangsa aneksor yang jadi rada kalem ketika mereka sudah memeluk Islam.

            Tidak hanya Islam yang memiliki sejarah seperti di atas. Buddha pun berhasil merubah karakter sebuah bangsa. Kita semua tentu tahu siapa Ashoka. Raja besar dari dinasti Maurya yang berkuasa di daerah India. Sebelumnya raja ini sangat ganas di medan perang. Tak terhitung berapa kerajaan menjadi hancur lebur di tangan pasukan perangnya yang gagah perkasa. Namun apa yang terjadi saat dia masuk agama Buddha? Dengan tiba-tiba dia menghentikan segala kegiatan aneksasinya. Ashoka tergerak untuk berkonsentrasi pada kebijakan yang ditujukan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyatnya. Pembangunan di semua sektor digalakkan. Dan hasilnya, kerajaannya maju pesat. Dan Ashoka pun diingat sebagai salah satu raja ter-agung yang pernah dilahirkan oleh India hingga detik ini.

            Satu lagi contoh agama yang membuat pemeluknya lebih santun dalam menghadapi sesama, Jainisme. Kepercayaan yang dibawa oleh Pangeran Vardhamana (Mahavira), juga dari India, pada interval waktu 599 SM hingga 527 SM. Ketika penulis membaca buku karya Michael H. Hart yang bejudul 100 Tokoh Paling Berpengaruh Sepanjang Masa, sungguh tidak dapat terbayangkan bagaimana doktrin dari sistem kepercayaan ini. Kita bisa bayangkan bagaimana pemeluk Jainisme ini pun tak tega menyapu halaman rumahnya sendiri karena takut menginjak cacing-cacing tanah. Sungguh luar biasa!! Begitu kuatnya ajaran tentang kasih sayang bukan hanya pada sesama manusia, tapi juga makhluk ciptaan Tuhan lainnya.

            Agama lain seperti Kristen yang memiliki doktrin kasih terhadap sesama. Yesus Hamasia pernah berkata bahwa jika seseorang menampar pipi kananmu maka berikan pipi kirimu. Penulis juga tertarik pada sebuah cerita dalam Holy Bible yang bercerita tentang seorang pelacur yang akan dihukum rajam. Yesus berkata pada orang-orang yang akan merajam itu jika memang orang itu tidak punya dosa maka silakan untuk melanjutkan hukuman itu. Dan satu persatu orang-orang itu pun mundur. Penulis sendiri bisa memahami apa arti kata Yesus itu. Seseorang tidak boleh seenaknya menghakimi orang lain. Hakim itu hanya Tuhan semata. Tangan-tangan Tuhan akan menegakkan keadilan di dunia melalui makhluk-Nya yang benar-benar terpilih. Jadi tidak semua makhluk berhak menjadi hakim, ataupun melakukan tahkim (penghakiman).

            Kembali ke bahasan semula, lalu apa sebenarnya yang mengakibatkan pemeluk agama itu menjadi ganas ketika agama mereka sendiri berusaha untuk meminimalisirnya? Hal ini pun tak lepas dari sejarah agama itu sendiri. Karen Armstrong pernah mengatakan bahwa salah satu karakteristik utama umat Islam adalah sakralisasi sejarah. Seperti juga agama lain, sejarah Islam terhampar cukup kelam. Kita tak bisa memungkiri bahwa ego manusia tetap ada meski ia sudah memiliki agama. Kalau kita pernah membaca buku Farag Faudah yang berjudul al-Haqiqah al-Ghaybah[2], di situ dengan sangat jelas disebutkan kebobrokan yang muncul kembali setelah wafatnya Muhammad SAW. Para pembaca tentu sudah tahu siapa dan apa yang dilakukan seorang Muawiyah bin Abu Sofyan yang dengan segala kelicikannya melawan Khalifah Ali bin Abi Thalib, menebarkan segala kebusukan untuk merusak persatuan umat Islam saat itu, dalam sejarah disebut tahun fitnah besar. Atau seorang Yazid bin Muawiyah bin Abu Sofyan yang menolak bertanggung jawab atas terjadinya tragedi Karbala, Irak, yang mengakibatkan syahidnya salah satu cucu kesayangan Nabi SAW, Husain bin Ali bin Abi Thalib. Juga seorang Abu Abbas As-Saffah, pendiri Daulah Abbasiyah, yang sangat mendendam dan dengan seenak perutnya menjagal puluhan anggota keluarga Umayyah sambil makan malam!! Pembaca tahu apa arti kata As-Saffah? Artinya bisa Tulisan Berdarah, atau bisa juga Sang Penjagal. Nah, silakan Anda bingung.

            Agama Kristen pun tak lepas dari sejarah kekerasan. Pembaca tentu sudah mengetahui dari berbagai sumber tentang bagaimana busuknya konspirasi Vatikan. Munculnya sekte Protestan pun tidak terlepas dari kekolotan doktrin gereja pada waktu itu. Perang Salib juga terjadi akibat hasutan pemimpin tertinggi kaum Katolik pada saat itu, Paus Urban II. Nama perang Salib pun diilhami oleh semangat mengobarkan perang berlandaskan sentimen agama yang dibawa oleh pasukan Kristen itu. Sedangkan dari lawannya, yaitu tentara yang bergama Islam, tidak menggunakan simbol-simbol agama. Mereka adalah pasukan kerajaan yang bertugas membela kedaulatan negara. Dan kebetulan saja mereka memeluk agama Islam. Belum lagi jika kita menelisik lebih dalam tentang kelamnya sejarah pengadilan inkuisisi yang dilakukan gereja. Penyiksaan dan pembunuhan seperti makanan sehari-hari. Ribuan orang wanita disiksa di luar batas kewajaran hanya karena doktrin gereja yang menyebutkan tentang kesalahan Eva (Hawa) pada proses terjadinya dosa awal. Maka dari itu, bangsa Eropa sekarang begitu tersekularisasi, karena pada intinya mereka begitu trauma dengan ‘kebusukan’ agama tersebut. Setiap individu di benua biru menganggap bahwa agama merupakan urusan pribadi yang tidak ada kaitannya dengan negara sekalipun.

            Pergerakan feminisme pun muncul akibat dari tindak kekerasan di masa lalu seperti yang telah disebutkan di atas. Ketidakseimbangan posisi antara kaum laki-laki dan perempuan, yang semakin diperburuk dengan legitimasi institusi agama terhadap tindakan tersebut. Islam, Kristen, dan juga agama-agama lain di atas dunia ini sebenarnya sangat menghormati kedudukan kaum Hawa. Permasalahannya adalah para pemeluk agama-agama itu masih menggunakan tradisi-tradisi adat peninggalan nenek moyang yang sangat rasistik dengan perempuan. Dalam sejarah Islam disebutkan bahwa masyarakat Arab pra-Islam sangat melecehkan wanita. Bagi mereka, memiliki anak perempuan adalah aib yang nggak ketulungan, sehingga sah-sah saja ketika mereka mengubur hidup-hidup bayi perempuan mereka. Ketika Islam datang, budaya itu langsung ditendang jauh-jauh. Muhammad SAW, sebagai kepala ‘suku super’ baru itu, menempatkan perempuan dalam peran yang sama di ranah sosial kemasyarakatan. Kedudukan kaum itu diperbaharui dan dihormati dengan tidak bercela. Penghormatan yang sesuai dengan tempatnya diberikan oleh Nabi SAW. Wanita bukan lagi makhluk hina yang bisa mendatangkan aib besar. Namun, tradisi emansipasi ini berhenti ketika kaum Muslim dipimpin oleh kerajaan yang bersistem dinasti (baca: kekhilafahan). Banyak khalifah yang suka mengumpulkan wanita dalam satu tempat, biasa kita sebut harem. Hak-hak sosial kemasyarakatan kaum perempuan dikebiri sampai habis. Wanita tidak berhak mengeluarkan berbagai pendapatnya seperti zaman Nabi SAW. Posisi pejabat di pemerintahan didominasi hanya oleh kaum Adam saja. Kaum Hawa hanya seolah sebagai konco wingking saja, tugas mereka hanya berkutat di sekitar pekerjaan rumah tangga semata. Dan akibatnya terasa sampai saat ini.

            Lalu bagaimana dengan Indonesia? Negara kita sama saja seperti yang diungkapkan di atas. Pertentangan berlatar kelompok, suku, agama, hingga jender masih saja membayangi. Benar saja, sejak berdirinya negara kita tercinta ini memang sudah beraroma pertentangan seperti itu. Banyak munculnya organisasi kedaerahan yang sedemikian kolot terkadang cukup mengganggu gerak perjuangan bangsa. Kita tentu masih ingat dengan polemik tentang dihapusnya tujuh kata dalam piagam Jakarta yang membuat berang kelompok Islam pada saat itu. Dan sampai sekarang kelompok itu masih menuduh bahwa usaha itu merupakan upaya pengkhianatan terhadap kaum Muslim Indonesia. Bagi penulis pribadi ini merupakan hal yang menggelikan. Bagaimanapun, penulis memberi respek yang cukup besar terhadap Bung Karno, Bung Hatta, dan pemimpin pergerakan nasional yang lain, yang sedemikian sigap mengantisipasi perpecahan bangsa yang baru ‘lahir’ ini. Jika kalimat itu masih dipertahankan, maka akan muncul tentangan dari kelompok lain, dan akibatnya adalah perpecahan yang cukup mematikan bagi roda perjuangan pada era itu. Indonesia ini adalah bangsa yang heterogen. Tidak bisa dipaksakan begitu saja menjadi homogen. Dahulu ketika Islam masuk ke Nusantara pun diterima dengan baik oleh masyarakat pada saat itu. Lalu dengan egoisnya agama ‘bungsu’ itu mau berkuasa sendiri. Apa kata dunia?! Pertengkaran kelompok pun begitu kental di Indonesia. Kalau kita membuka kembali lembaran-lembaran sejarah bangsa ini, maka yang terlihat pertentangan antara kaum nasionalis dengan kaum agama yang sangat kental. Pada era 50-an pun, muncul partai-partai politik yang berlatar kelompok tertentu untuk bertarung di arena pemilihan umum. Pada tahun 1965, seperti yang kita tahu, terjadi chaos yang mengerikan di negara kita. Terlepas ada tidaknya kepentingan asing yang bermain di dalamnya, tapi dalam peristiwa itu tampak pertentangan antara berbagi kelompok dan kepentingan di dalam negeri. Kasus demi kasus yang merobek-robek kearifan bangsa kita yang sangat menjunjung tinggi kebebasan dan toleransi terjadi silih berganti. Dan yang terakhir adalah terjadinya insiden Monas pada tanggal 1 Juni 2008 yang lalu. Kita disuguhi kebrutalan massa Front Pembela Islam (FPI) yang menyerang kelompok Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) tanpa pandang bulu. Kedua belah pihak saling tuding untuk mencari kambing hitam. Banyak korban yang menderita luka-luka dan harus dilarikan ke rumah sakit.

            Penulis sendiri tidak ingin berpolemik dengan membela satu kelompok dan menyalahkan kelompok yang lain. Tapi yang harus menjadi fokus kita adalah bagaimana kekerasan masih menjadi sarana terakhir untuk menyelesaikan masalah. Bagaimana kebrutalan dan keegoisan masih menjadi acuan untuk menyelesaikan perbedaan pendapat. Kerangka berpikir seperti ini yang harus dienyahkan segera dari bumi Pertiwi. Adalah suatu fitrah jika manusia diciptakan berbeda, baik pikiran maupun fisik. Tuhan berbuat itu agar supaya manusia saling mengenal dan menghormati sebagaimana yang Ia sabdakan dalam kitab suci-Nya. Perbedaan bukanlah suatu aib yang memalukan, melainkan penyeragaman secara paksa yang merupakan aib itu sendiri. Untuk mengharmoniskan perbedaan itu, manusia harus melakukan dialog bil ahsan wal hikmah (dengan baik dan penuh kebijaksanaan). Bukan dengan cara main pukul sana pukul sini. Itu adalah cara orang barbar yang sangat tidak beradab, bahkan Flintstone pun kalah tidak beradabnya. Nampaknya, bangsa ini masih harus banyak belajar. Bangsa Indonesia harus banyak belajar untuk mengejar ketertinggalan dalam urusan hormat-menghormati suatu hal yang berbeda. Bangsa kita telah kehilangan ruhnya sebagai bangsa yang toleran terhadap ketidaksamaan dan kebebasan. Seolah-olah kita ini harus hidup seperti robot yang terkontrol. Lalu apa gunanya Tuhan menciptakan otak dan hati untuk manusia kalau tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Rasa-rasanya aroma kebebasan dan toleransi sudah menguap dari tanah tercinta ini. Dan inilah tugas kita bersama. Terlepas dari latar belakang kelompok, agama, suku, ras, sudah menjadi keharusan bagi manusia Indonesia berupaya keras agar aroma itu tidak jadi menguap meninggalkan kita. Mungkin para pendahulu kita menangis keras di alam sana jika melihat kondisi Indonesia ini yang sudah sedemikian carut-marut. Mereka menangis bukan karena menyesal telah menjadi tumbal bagi bangsa ini. Yang mereka tangisi adalah kenapa kondisi negara yang mereka bela sampai mati bisa lebih buruk daripada belum merdeka dulu, dan serasa usaha mereka menjadi sia-sia belaka. Lalu bagaimanakah kita bertanggung jawab pada mereka dan Tuhan nantinya? Apakah kita mampu menjaga harumnya nama bangsa Indonesia sebagai bangsa yang memiliki toleransi tinggi terhadap sesama? Apakah nantinya negara ini akan semakin tenggelam karena tidak ada lagi penghormatan terhadap kebebasan manusia? Wallahua’lam bishawab.. Hanya Tuhan sendiri yang tahu, tapi kita wajib berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan cita-cita luhur itu.

 

Imam Ali bin Abi Thalib berkata: “Penindasan dan tirani merupakan bayang-bayang menyedihkan untuk akhirat.” [3]

Sumber Bacaan:

1.       Armstrong, Karen, Islam: A Short History, Ikon Teralitera, Yogyakarta, 2003.

2.       Hart, Michael H., 100 Tokoh Paling Berpengaruh Sepanjang Masa, Karisma Publishing Group, Batam, 2005.

3.       Nasution, Harun, Teologi Islam: Aliran-aliran, Sejarah Analisa Perbandingan, UI-Press, Jakarta, 2006.

4.       Fouda, Farag, Kebenaran Yang Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslim, Balai Litbang Agama Jakarta Departemen Agama RI bekerjasama dengan Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta, 2007.

5.       Radhi, Sayid Syarif, Nahjul Balaghah: Kumpulan Surat dan Ucapan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, Penerbit Lentera, Jakarta, 2006.

 

 

Sumber Lain:

 

1.      Seratus ucapan Yesus yang sesuai dengan  Islam. (www.google.com)

2.      afgani22.wordpress.com

3.      Dan berbagai sumber dari website, blog dan milis lainnya.


[1] Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar hadits ‘Abdallah al-Mawarzi ibn al-Mubarak (… – 181 H) dalam Kitab al-Zuhd wa al-Raqa’iq.

[2] Dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia berjudul ‘Kebenaran Yang Hilang’. Diterbitkan oleh Balai Litbang Agama Jakarta Departemen Agama RI bekerjasama dengan Yayasan Wakaf Paramadina.

[3] Kitab Nahjul Balaghah, halaman 377, karya Sayid Syarif Radhi, diterbitkan oleh Penerbit Lentera.

Iklan

Juli 16, 2008 - Posted by | Tulisan-tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: