Sawah Pencerahan Agung Afgani

Lahan Menggapai Kebebasan Berpikir

Dua Substansi Utama Ajaran Islam Di Era Islam Perdana

Salam…

 

Puja-puji senantiasa terhatur pada Allah, Tuhan segala manusia apapun kepercayaannya.

 

Sebenarnya saya ingin menulis sesuatu tentang tema ini sejak lama. Tapi ya itu, karena penyakit malas saya yang sudah kronis sehingga menutupi gurat-gurat pemikiran dalam otak saya.

Jujur saja, tema ini sebenarnya sudah banyak dikaji oleh para ahli, khususnya yang berkubang di bidang sejarah Islam. Saya banyak membaca karya Karen Armstrong hingga artikel yang ditulis oleh Luthfi Assyaukanie. Semua menyajikan hal yang menarik bagi saya pribadi. Semua memberi ilmu baru buat saya. Karena menurut Armstrong, “Salah satu karakteristik umat Islam adalah sakralisasi sejarah.” Jadi bisa dikatakan bahwa seorang Muslim belajar agamanya dari apa yang dilakukan oleh para pendahulunya. Ini tercermin dari dimasukkannya As Sunnah (tradisi) sebagai salah satu sumber hukum Islam, selain Al Qur’an.

Kembali ke bahasan semula, seperti yang tertera di atas, bahwa sebenarnya ada dua substansi utama dalam ajaran yang dibawa oleh Muhammad SAW pada era permulaan Islam. Yang pertama adalah peneguhan nilai-nilai Ketauhidan. Pada hal ini, Muhammad SAW tidak perlu bekerja keras untuk merealisasikannya dan tidak membuat beliau merasakan kesengsaraan. Seperti yang kita ketahui bahwa bangsa Arab telah mengenal doktrin Tuhan yang Tunggal. Ajaran-ajaran ini telah disampaikan pada orang-orang Arab melalui para Nabi yang datang sebelum Muhammad SAW. Mungkin yang jadi permasalahan adalah terjadi penyimpangan pemahaman doktrin Keesaan Tuhan. Dalam menyembah Tuhan yang Esa, mereka juga menyertakan sistem atau tata cara peninggalan agama Pagan, yaitu tentang adanya Perantara dalam penyembahan tersebut. Konsep dewa perantara zaman Yunani kuno sampai doktrin Perawan Maria dalam Katolik, ‘menginspirasi’ orang Arab untuk menjadikan patung berhala sebagai perantara hubungan mereka dengan Tuhan. Jadi sebenarnya tak ada permasalahan yang berarti ketika Muhammad SAW meluruskan kesalahpahaman tersebut. Muhammad SAW menyampaikan bahwa untuk berhubungan dengan Tuhan dapat dilaksanakan langsung tanpa perantara yang ribet. Manusia diberi keistimewaan untuk dapat berinteraksi secara pribadi dengan Sesembahannya. Kalau saya boleh berpendapat, malah orang Arab itu senang-senang saja. Beribadah dengan gaya yang dibawa Muhammad SAW itu lebih murah biayanya daripada gaya dengan cara lama yang cukup menguras harta mereka dengan adanya persembahan dan segala tetek bengeknya pada berhala. Menyembah Tuhannya Muhammad SAW jauh lebih irit karena cukup njengkang-njengking saja tanpa ritual yang merepotkan.

Sedangkan substansi kedua inilah yang membuat Nabi Suci SAW merasakan segala kepedihan dan penderitaan yang teramat sangat. Hal itu adalah egalitarianisme, atau persamaan kedudukan. Islam sejak semula mengajarkan bahwa manusia di muka bumi ini adalah sama kedudukannya di hadapan Allah. Yang membedakan adalah tingkat ketaqwaan di mana Allah sebagai hakimnya. Semua manusia, berkulit hitam atau putih, kaya atau miskin, bangsawan atau budak, laki-laki atau perempuan, mempunyai kedudukan yang sama di mata Tuhan. Faktor inilah yang kemudian mengguncang tatanan masyarakat Mekkah khususnya pada waktu itu. Para orkay (orang kaya maksudnye, pen) Arab menganggap ajaran itu dapat menurunkan derajat mereka sebagai orang terhormat. Dapat mereduksi hak-hak istimewa mereka dalam masyarakat. Maka dari itu, tidaklah heran ketika kemudian para bangsawan itu kemudian bersekongkol untuk menangkal perkembangan ajaran Muhammad SAW yang sangat membuat tidak nyaman mereka. Kasarnya, jika harus membunuh pun mereka tidak akan ragu untuk melakukannya, asal status sosial mereka terselamatkan. Benturan horisontal bahkan vertikal ini yang kemudian melahirkan kekerasan dalam perjalanan penyebaran Islam di waktu-waktu awal. Muhammad SAW dan pengikutnya mengalami tindak penyiksaan bahkan pembunuhan akibat dari egoisme sempit alias gak mutu para orang kaya Arab tersebut.

Faktor inilah yang harusnya menjadi instrospeksi umat Islam sekarang ini. Ketika mereka dengan sengaja mengelompokkan diri dan dengan egois menganggap bahwa kelompoknya adalah yang paling unggul. Anda semua pernah lihat film The Messenger? Anda tentu lihat bagaimana Abu Sufyan memasang tampang sengak habis-habisan waktu dia memeluk Bilal bin Rabah, yang notabene adalah bekas budak keluarganya. Jangan lagi ada orang-orang seperti Abu Sufyan ini. Bangsawan sombong yang tidak paham akan arti persamaan. Kalaupun Anda semua jadi orang kaya dan menghadapi pemikiran-pemikiran yang baru, jadilah seperti seorang Utsman bin Affan RA. Beliau ini masih satu keluarga dengan Abu Sufyan, tapi memiliki pemahaman yang lebih baik tentang arti keegaliteran. Beliau tidak merasa bahwa status sosialnya akan hilang semata-mata hanya karena dia memandang bahwa setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Malah pada akhirnya Utsman RA diberi anugerah oleh Allah sebagai salah satu sahabat dekat Sang Nabi SAW dan insya Allah telah dijanjikan oleh-Nya melalui Muhammad SAW sebagai salah satu ahli surga menemani junjungannya, amin…

Banyak yang bisa kita petik dari kisah di atas. Banyak orang pada masa sekarang ini yang terfokus pada poin tentang Tauhid semata. Tapi mereka melupakan sesuatu yang sebenarnya sangat ditekankan oleh Tuhan yaitu persamaan kedudukan di antara manusia. Sebagai contoh, Fir’aun Ramses II itu tidak dihukum tidak semata-mata karena ia tidak mengakui Allah sebagai Tuhannya. Sungguh Tuhan sendiri bersabda dalam firman-Nya bahwa jikalau seluruh makhluk di alam raya ini tidak menyembah pada-Nya, maka Ia tidak rugi seujung kuku pun. Tapi Fir’aun ‘dihabisi’ Allah karena ia berbuat tiran. Ia mengaku Tuhan dan sewenang-wenang pada rakyatnya. Tak heran juga, jika akhirnya banyak sekali kasus kekerasan yang terjadi dengan dilandas-paksakan pada agama. Sungguh naïf menurut saya.. Masih banyak permasalahan dalam masyarakat yang harus segera diselesaikan dengan segera. Atau pada akhirnya akan muncul banyak korban keacuhan kita karena terlalu sibuk dengan ego pribadi dan kelompok masing-masing. Entahlah kapan semua ini berakhir. Saya serahkan kembali pada-Nya.

 

Wallahua’lam bishawab…

 

Wassalam…

 

-Agung Afgani-

Iklan

Juli 11, 2008 - Posted by | Tulisan-tulisan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: