Sawah Pencerahan Agung Afgani

Lahan Menggapai Kebebasan Berpikir

Cerita Minyak Untuk HMI

 

 

Dengan menyebut nama Allah,

Tuhan segala manusia.

 

            Sebagai permulaan, ada baiknya kita menilik hadits berikut ini, “Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: Kiamat tidak akan terjadi sehingga sungai Eufrat surut menyingkapkan gunung emas, di atasnya orang-orang berperang, sehingga dari setiap seratus orang akan terbunuh sembilan puluh sembilan. Setiap orang dari mereka mengatakan, ‘Mudah-mudahan akulah yang selamat itu.’”[1]

            Dalam sebuah hadits disebutkan juga, “Hampir tiba masanya, sungai Eufrat surut menyingkapkan perbendaharaan emas. Siapa yang menghadirinya, janganlah mengambilnya sedikitpun.[2]

            Imam Muslim juga meriwayatkannya dari Ubay bin Ka’ab dengan redaksi, “Hampir tiba masanya, sungai Eufrat surut menyingkapkan gunung emas. Jika orang-orang mendengar hal itu, mereka berjalan ke sana. Maka orang-orang yang ada di sana mengatakan: ‘Jika kita membiarkan orang-orang mengambilnya, mereka pasti akan mengambil seluruhnya.’” Beliau bersabda: “Maka, mereka bertempur di atasnya, sehingga setiap seratus orang terbunuh sembilan puluh sembilan.

            Ada berbagai macam penafsiran atas hadits-hadits di atas. Disebutkan juga bahwa melalui foto satelit ditemukan jika pasir-pasir di dasar sungai Eufrat mengandung biji emas. Tapi penemuan ini belumlah bisa untuk sepenuhnya dipercaya kebenarannya. Atau mungkin kita memiliki penafsiran sendiri? Saya pribadi cenderung untuk mengikuti kemungkinan yang kedua. Dengan artian demikian, saya mencoba untuk memiliki ataupun memilih cara lain untuk menafsirkan hadits-hadits tersebut.

            Apakah Anda ingat dengan serbuan ribuan tentara George Walker Bush ke Iraq pada 2003 silam? Apakah Anda percaya pada argumen Bush yang menyebutkan bahwa alasan dia menyerang Iraq adalah untuk merobohkan pemerintah tirani Saddam Hussein? Ataukah ada motif yang lain? Jawabannya adalah, definitely yes! Sangat naif jika diantara kita masih ada yang percaya pada argumen bohong hasil akal-akalan Bush dan kroninya. Akhirnya juga terungkap bahwa alasan utama serangan ke Iraq adalah motif penguasaan ladang-ladang minyak. Minyak?! Ya, barang inilah yang menjadi raison d’etre sebuah invasi yang telah membunuh ribuan jiwa, menghancurkan pelbagai infrastruktur, dan memupuskan harapan banyak warga Iraq itu sendiri.

            Dan saya lebih sepakat jika ‘emas’ yang disinggung di atas bukanlah dalam arti secara harfiahnya. Tetapi ‘emas’ itu lebih berarti minyak jika kita melihat berdasar pada realitas akhir-akhir ini. Sebuah jenis barang tambang yang sangat dibutuhkan oleh dunia. Karena dibutuhkan itulah, apalagi tidak semua bagian dunia memiliki kandungan minyak di dalam tanahnya, maka ia diperebutkan. Perebutan yang meminta tumbal berupa korban jiwa. Saya jadi teringat bagaimana nasib suku Indian yang sampai sekarang sengsara dalam menghadapi kebrutalan bangsa kulit putih dalam memburu barang tambang di benua Amerika. Rasa-rasanya akan menjadi suatu kewajaran, meski sangat memuakkan, tentang perebutan barang tambang ini jika kita melihat sejarah kolonialisasi di benua Amerika. Surat kabar harian Kompas pada tanggal 28 Mei 2008 merilis berita foto singkat tentang unjuk rasa anggota komunitas Sudan yang ada di Melbourne, di luar Gedung Parlemen Negara Bagian Victoria, pada tanggal 27 Mei 2008. Mereka meminta komunitas internasional mencegah pertumpahan darah di negara-negara kaya minyak, yang menjadi rebutan banyak pihak. Namun, kerakusan yang mendorong perebutan kekayaan alam itu telah menewaskan nyawa banyak orang, termasuk di Sudan. And the history always repeated…

            Pada kondisi termutakhir ini pulalah, minyak kembali memegang ‘peranan’. Kenaikan gila-gilaan harga minyak membuat gonjang-ganjing di seantero dunia. Harga normal minyak yang berkisar di antara harga 60 dolar Amerika per barrel melonjak lebih dari 100 persen menjadi 135 dolar Amerika per barrel. Hal ini memicu inflasi di seluruh dunia. Selain kenaikan harga bahan bakar minyak, inflasi juga dipicu oleh harga bahan pangan. Inflasi ini semakin menambah kekacauan karena konsumen dan pebisnis menjadi gelisah. Pasar bursa dunia pun tak berhenti bergejolak dan efeknya sangat terasa sampai Asia. Laju inflasi di Vietnam bahkan mencapai 25,2 persen. Ini yang tertinggi di Asia. Melonjaknya harga makanan sangat memberatkan penduduk di negara miskin, dan meroketnya tingkat inflasi semakin merontokkan daya beli warga miskin.

            Tapi, saya pribadi tertarik dengan pernyataan George Soros beberapa waktu yang lalu. Dalam pernyataannya itu Soros menuduh para spekulan memainkan harga minyak yang berujung pada meroketnya harga barang kebutuhan masyarakat. Dan itu terbukti beberapa hari kemudian, terjadi aksi borong yang akhirnya menurunkan harga minyak menjadi 128 dolar Amerika per barrel. Nampaknya tesis yang diajukan soros bisa menjadi salah satu acuan kita dalam analisa selanjutnya.

            Pemerintah Indonesia, melalui Wakil Presiden Jusuf Kalla, juga merespon gonjang-ganjing harga minyak dunia dengan pernyataan bahwa Indonesia akan keluar dari organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC). Beliau beralasan bahwa Indonesia bukan lagi sebagai negara eksportir malah menjadi importir minyak. Hal ini sebenarnya cukup menggelikan karena kita bisa melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Indonesia memiliki banyak ladang minyak yang tersebar dari Nanggroe Aceh Darussalam hingga Papua. Tapi rupanya pemerintah lebih suka memberikan hak pengelolaan ladang minyak tersebut pada pihak asing (sebagai informasi, sekitar 84 persen produksi migas di Indonesia dikuasai pihak asing). Dan efeknya terasa sekarang. Ketika seharusnya negara kita mendapat untung dari booming harga barang tambang dunia, kok malah defisit? Bukannya untung malah buntung. Habis dikerjai oleh para spekulan yang disebutkan George Soros. Nasib… Nasib…

            Ekses pahit kenaikan harga minyak yang dialami banyak negara pun dialami Indonesia. Reuters menyebutkan bahwa tingkat inflasi Indonesia terus meningkat hingga mencapai titik 8,96 persen. Hal ini semakin diperunyam dengan keputusan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri sebesar 28,7 persen. Keruan saja keputusan ini mendapat tentangan dari banyak pihak. Tapi pemerintah tetap tak bergeming. Alasan pemerintah kita adalah subsidi untuk BBM selama ini telah membebani APBN. Pemerintah juga berkilah bahwa mereka telah berusaha menyehatkan anggaran dengan cara efisiensi di semua sektor, termasuk departemen-departemen pemerintahan, tetapi tetap saja belum dapat memperbaiki APBN. Pada tanggal 23 Mei 2008, pukul 21.30 WIB di Departemen Keuangan, Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro, mengumumkan secara resmi kenaikan harga BBM. Pengumuman ini langsung disambut oleh unjuk rasa dari berbagi elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa hingga buruh. Para ahli ekonomi pun menuduh pemerintah telah menyengsarakan rakyat. Mereka menantang pemerintah untuk menghitung kembali apakah benar subsidi BBM benar-benar membebani APBN 2008. Mantan kepala Bappenas, Kwik Kian Gie, mengungkapkan, “Tidak ada subsidi BBM. Pemerintah mengambil minyak bumi milik rakyat secara gratis dengan biaya hanya 10 dolar Amerika per barrel. Tapi karena hanya bisa menjualnya seharga 77 dolar Amerika per barrel, pemerintah merasa rugi jika harga minyak internasional lebih dari harga itu. Bila perhitungan dilakukan dengan benar, pemerintah sesungguhnya malah mendapatkan kelebihan uang tunai, yakni selisih antara harga jual BBM di dalam negeri dengan besarnya subsidi dari minyak mentah impor. Besarnya diperkirakan mencapai 35 trilyun rupiah.”[3] Yang mengherankan adalah kemana perginya uang sebanyak itu? Lalu kenapa pemerintah memberikan pernyataan bahwa mereka rugi 123 trilyun rupiah? Sungguh aneh!

            Kembali ke bahasan semula, ketika akhirnya pemerintah tetap keukeuh untuk menaikkan harga BBM di dalam negeri. Selain inflasi yang terus meningkat, naiknya harga BBM juga berpengaruh pada melonjaknya harga bahan pokok kebutuhan masyarakat. Ini merupakan ‘kelaziman’ jika suatu ketika harga BBM naik maka akan diikuti dengan semakin mahalnya harga barang konsumsi masyarakat. Ini semakin memberatkan rakyat Indonesia. Kenapa? Karene dengan pendapatan minimum masyarakat yang hanya 95 dolar Amerika per bulan, rakyat diharuskan untuk membeli BBM dengan patokan harga internasional sebesar 125 dolar Amerika per barrel. Ini berarti rakyat Indonesia punya hutang 30 dolar Amerika per bulan. Sedangkan pemerintah sudah ogah memberi subsidi untuk menutupi kekurangan itu. Sebagai perbandingan, rakyat Amerika Serikat memiliki pendapatan minimum 980 dolar Amerika per bulan. Jadi mereka masih bisa menabung sebesar 855 dolar Amerika per bulannya.[4] Sungguh seperti bumi dan langit. Rakyat di negara yang satu masih bisa hidup makmur tanpa digrecokin harga BBM, sedang di negara yang satunya lagi harus siap-siap jadi pengemis hanya gara-gara BBM. Malangnya…

            Berikut adalah perbandingan harga BBM di beberapa negara (termasuk negara-negara penghasil minyak):

Negara

Dolar Amerika Per Liter

Rupiah per Liter

Australia

1.37

12,604

Brazil

1.56

14,352

Kanada

1.25

11,500

China

0.64

5,888

Kroasia

1.73

15,916

Siprus

1.63

14,996

Denmark

2.15

19,780

Mesir

0.25

2,300

Finlandia

2.1

19,320

Jerman

2.28

20,976

Yunani

1.3

11,960

Hongkong

1.997

18,372

Islandia

2.13

19,596

India

1.22

11,224

Iran

0.09

828

Israel

1.91

17,572

Kuwait

0.21

1,932

Malaysia

0.53

4,876

Meksiko

0.62

5,704

Nigeria

0.1

920

Saudi Arabia

0.12

1,104

Turkmenistan

0.08

736

Venezuela

0.05

460

Singapura

1.37

12,604

Thailand

0.69

6,348

Philipina

0.94

8,648

(Sumber: iputusundika.net)

            Yang jelas, kenaikan harga bahan pokok inilah yang semakin membuat perekonomian rakyat terpuruk. Dan ini semakin menambah jumlah rakyat yang berada di bawah garis kemiskinan. Menurut Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Reformasi Pertambangan dan Energi, Pri Agung Rakhmanto, kenaikan harga BBM sebesar 30 persen berpotensi mengakibatkan jumlah orang miskin bertambah sebesar 8,55 persen atau sekitar 15,68 juta jiwa.[5]

Dampak Kenaikan Harga BBM

BBM Naik

Kenaikan Jmlh Pengangguran

Pertambahan Angka Kemiskinan

10 %

5,64 %

2,85%

20 %

11,28 %

5,70 %

30 %

16,92 %

8,55 %

(Sumber: ReforMiner Institute)

Pemerintah pun mencoba berdalih dengan meluncurkan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diklaim sebagai pengganti subsidi BBM. Rakyat yang sudah terdata sebagai warga miskin akan diberikan uang sebesar 100 ribu rupiah per bulan selama 7 bulan. Hal ini juga memicu banyak polemik. Nominal sebesar 100 ribu rupiah dianggap tidak cukup karena, menurut Pri Agung, setelah dihitung lagi seharusnya rakyat miskin diberikan uang sebesar 168 ribu rupiah. Berarti ada uang 68 ribu rupiah yang lari entah kemana. Polemik lain adalah ketidaktepatan sasaran penyaluran BLT tersebut. Data yang dipakai pemerintah adalah data tahun 2005 yang sudah sangat tidak up to date dalam menggambarkan jumlah warga miskin di republik ini. Ditambah lagi adanya penolakan dari banyak daerah untuk menalangi uang BLT dahulu yang akan disalurkan pada yang berhak menerima. Lho berarti dana dari pusat juga belum turun? Wah, bagaimana sih maunya?! Belum lagi banyak rakyat yang menolak uang BLT dengan alasan bahwa pemerintah lebih baik menyalurkan dana tersebut ke dalam bentuk usaha-usaha pemberdayaan dengan asumsi seluruh elemen masyarakat dapat memanfaatkannya.

            Mahasiswa sebagai salah satu unsur penggerak perubahan di negara ini ikut pula menyumbangkan pikiran dan tenaga dalam rangkaian kritisisasi kebijakan kenaikan BBM oleh pemerintah. Unjuk rasa terjadi di berbagi daerah di Indonesia. Kebanyakan memang dimotori oleh mahasiswa, meskipun ada juga yang dilakukan oleh elemen lain seperti buruh, dsb. Semua berjuang untuk memperingatkan pemerintah agar tidak sewenang-wenang menaikkan harga BBM yang berarti semakin menyengsarakan rakyat Indonesia itu sendiri. Kemiskinan, pengangguran, kenaikan tarif angkutan, kenaikan harga bahan pokok, kelaparan, kekurangan gizi merupakan lingkaran setan mematikan yang disebabkan oleh kelaliman pemerintah yang sama sekali tidak peduli akan rakyatnya. Berdasar penjelasan di atas, bohong besar jika pemerintah peduli pada rakyatnya karena justru pemerintah membunuh mereka secara perlahan. Pemerintah justru lebih peduli pada kepentingan pasar dan golongan tertentu saja.

            Bahkan akibat dari bengalnya pemerintah untuk tetap menaikkan harga BBM ditambah semakin acuhnya pemerintah terhadap suara-suara dari berbagi elemen masyarakat adalah banyaknya aksi unjuk rasa yang berakhir dengan tindak anarkisme. Terlepas dari adanya provokasi dan penyusupan atau tidak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, aksi kekerasan ini disebabkan kekeraskepalaan penguasa negeri ini. “Bahwa rakyat kelaparan, Bapak Presiden!… Rakyat banyak yang menganggur!… Angka kemiskinan melonjak pesat dan harus segera dituntaskan, Bapak Presiden!” demikian teriakan para demonstran. Tapi tak ada reaksi sekalipun dari pemerintah. Dan akibatnya kita bisa lihat sendiri akhir-akhir ini. Kekerasan, menurut Asghar Ali Engineer dalam bukunya yang berjudul Islam dan Teologi Pembebasan, bukan semata-mata karena budaya bangsa itu sendiri tapi juga ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi, diantaranya semakin maraknya tindak ketidakadilan yang terjadi pada bangsa itu pula. Jadi memang ada baiknya jika kita tidak berat sebelah dalam menganalisis kasus anarkisme. Kedua pihak harus saling menahan dan mengintrospeksi diri. Pemerintah harus bertindak adil dan elemen pengunjuk rasa harus berpikir ulang tentang perlu tidaknya menggunakan langkah kekerasan pada waktu tersebut. Karena kekerasan yang tidak tepat tempat dan waktu penggunaannya, justru seringkali destruktif daripada konstruktif.

            Tampaknya pemerintah agak jengah juga dengan maraknya demontrasi gaya keras ala mahasiswa ini. Pemerintah, selain meluncurkan BLT, juga mengeluarkan kebijakan pemberian Bantuan Khusus Mahasiswa (BKM) sebesar 500 ribu rupiah untuk 400 ribu orang mahasiswa di seluruh Indonesia. Pihak mahasiswa sendiri menuduh program BKM ini sebagai upaya pembungkaman kevokalan mahasiswa. Bantuan ini dirasa sangat kurang jika memang pemerintah betul-betul serius dan peduli terhadap dunia pendidikan. Seharusnya pemerintah serius untuk mengucurkan penuh 20 persen dari anggaran negara untuk dialokasikan pada pendidikan. Tidak cuma dana sebesar 200 milyar rupiah untuk 400 ribu orang mahasiswa saja. Tapi harus ada lebih dari itu untuk anggaran pendidikan alias tidak terus menerus dipangkas dengan berbagi alasan. Lalu kenapa juga tiba-tiba pemerintah punya inisiatif untuk memberi BKM setelah mereka terus memotong alokasi 20 persen dana pendidikan kita? Saya jadi berpikir bahwa tuduhan mahasiswa itu benar adanya. Wallahua’lam…

            Jika Anda semua pernah membaca karya-karya Aristoteles, Plato, Ibn Abi Rabi, Farabi, Mawardi, Al Ghazali, Ibn Taimiyya, Ibn Khaldun tentunya Anda bisa menyimpulkan bahwa tujuan sebenarnya dari negara adalah mengusahakan kemakmuran semaksimal mungkin untuk rakyat. Jika rakyat sudah makmur maka itu berarti pemimpin sudah menjalankan poin terpenting yang disyaratkan oleh Tuhan, yaitu keadilan sosial. Bahkan Ibn Taimiyya dan Asghar Ali Engineer menekankan secara ekstrem tentang poin keadilan sosial dibanding poin religiusitas kepada pihak penyelenggara negara. Seperti yang diungkapkan oleh Ibn Taimiyya bahwa negara tidak akan hancur karena kemurkaan Tuhan jikalau bisa menegakkan keadilan meski dari tukang sapu jalanan hingga pemimpinnya itu non Islam. Tapi, sebuah negara akan hancur dimurkai Tuhan jika tidak bisa melaksanakan keadilan meskipun dari tukang sapu jalanan hingga pemimpinnya semua beragama Islam. Asghar Ali Engineer pun menyebutkan bahwa negara dapat bertahan hidup walau di dalamnya terdapat kekufuran, namun tidak bisa bertahan jika di dalamnya terdapat zulm (penindasan, ketidakadilan). Banyak kejadian buruk yang terangkum dalam sejarah Islam mengenai kesewenangan penguasa. Dan akhirnya mereka pun jatuh satu persatu dalam kehinaan hanya karena mereka tidak bisa bertindak adil. Lalu yang menjadi pertanyaan kita, apakah Tuhan tidak murka pada kelaliman petinggi-petinggi Indonesia? Bisakah Indonesia terselamatkan? Akhirnya hanya Tuhan yang punya kuasa, tapi kita wajib berupaya menghadirkan keadilan sebagai syarat utama dari Tuhan supaya negara kita tetap bertahan hidup dan lestari hingga akhir masa.

            Dari pembahasan di atas, lalu apa yang bisa menjadi bahan pembelajaran untuk HMI? Ada banyak hal sebenarnya yang bisa dibuat masukan untuk organisasi ini. Yang pertama adalah agar HMI tidak seperti penguasa-penguasa lalim yang tidak peka terhadap rakyat, apa yang menjadi kebutuhan rakyat. Banyak kader yang mengaku sedah prihatin, bahkan muak luar biasa, dengan kondisi HMI sekarang ini. Bukannya berjuang untuk umat dan bangsa yang sedang kesusahan, malah ikut ribut mancari ‘ladang minyak’ baru untuk kepentingan pribadi semata. Para elit HMI di semua tingkatan juga bertindak sebagai spekulan dan raja minyak. Main sana main sini, ramai-ramai memerah HMI untuk mewujudkan ambisi pribadi yang nyata-nyata sangat merugikan organisasi ini. Jika pemerintah kita sudah tidak bisa diharapkan lebih jauh lagi, janganlah HMI ikut hal yang sedemikian. Lalu rakyat harus berharap pada siapa? Ingat HMI = Harapan Masyarakat Indonesia. Rakyat memerlukan pegangan untuk harapan kehidupan mereka esok. Dan pegangan itu adalah kita, HMI. Tentunya dengan komitmen lurus dan kerja keras tanpa kenal lelah. Jangan sampai warga HMI ikut-ikutan tergerus ‘kemiskinan’ dan tidak bisa mendapatkan kebutuhan pokoknya sebagai kader umat dan bangsa gara-gara ketidakpedulian para elit HMI.

            Sebenarnya proyeksi untuk HMI tidak pernah berubah dari tahun ke tahun. Proyeksi HMI sudah jelas untuk mewujudkan kemaslahatan umat dan bangsa. Jangan sampai HMI melenceng dari proyeksi ‘suci’ ini yang berakibat pada semakin terpuruknya umat dan bangsa ini. Karena untuk inilah HMI didirikan 63 tahun yang lalu. Hal inilah yang dicita-citakan oleh para pendiri HMI, peningkatan derajat bangsa Indonesia. Lalu apakah kita tega mengkhianati asa luhur Bapak Lafran Pane dan rekan-rekan beliau ketika mendirikan HMI, dengan cara acuh tak acuh dan menggunakan organisasi ini sebagai alat pencapaian kepuasaan pribadi? Mudah-mudahan jawaban kita semua sama adanya, tidak!! Semoga semua bangsa Indonesia selalu berbahagia. Amin…

 

Wallahua’lam bishawab…

 

Wassalam…

 

  

 “Ya Allah, siapa saja yang menjadi pengatur urusan umatku kemudian ia memberatkan mereka, maka beratkanlah ia.”

(Hadits Riwayat Muslim)

 

“Allah Ta’ala telah menentukan pendapatan si miskin dalam harta si kaya. Karena itu, bila si miskin tetap kelaparan, itu karena si kaya mengabaikan bagian si miskin. Allah Ta’ala akan meminta pertanggungjawaban si kaya berkenaan dengan itu.”

(Imam Ali ibn Abi Thalib, Nahjul Balaghah, Hal. 437-438)

 

“Kemiskinan adalah seburuk-buruk kematian.”

(Imam Ali ibn Abi Thalib, Nahjul Balaghah, Hal. 367)

 

 

Sumber Bacaan

  1. Engineer, Asghar Ali, Islam dan Teologi Pembebasan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999.
  2. Sjadzali, Munawir, Islam dan Tata Negara, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta, 1993.
  3. Rakhmat, Jalaluddin, Islam Alternatif, Penerbit Mizan, Bandung, 1998.
  4. Madjid, Nurcholish, Pintu-pintu Menuju Tuhan, Paramadina, Jakarta, 2004.
  5. Radhi, Sayid Syarif, Nahjul Balaghah – Kumpulan Surat dan Ucapan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, Penerbit Lentera, Jakarta, 2006.

 

Sumber Surat Kabar

  1. Kompas, tanggal 7 Mei 2008.
  2. Kompas, tanggal 28 Mei 2008.

 

Sumber Internet

  1. www.hizbut-tahrir.or.id
  2. forum.detik.com
  3. iputusundika.net

[1] Hadits riwayat Bukhari dan Muslim

[2] Hadits riwayat Bukhari dan Muslim

[4] forum.detik.com

[5] Kompas tanggal 7 Mei 2008

 

Iklan

Juni 9, 2008 - Posted by | Tulisan-tulisan

2 Komentar »

  1. Jika dikatakan minyak tak perlu singainya kering…hal itu adalah emas saudaraku…emas……tunggulah sebentar juga akan ada peperangan memperebutkan emas tersebut

    Komentar oleh sunar | Mei 12, 2009 | Balas

    • Tak perlu terlalu tekstual begitu, Saudara. Bukankah ayat-ayat Tuhan itu ada yang tersurat dan tersirat. Ada yang gamblang, ada yang samar-samar. Namun intinya jelas, supaya kita berpikir dan belajar!

      Bagi saya, ayat ini adalah ayat yang implisit dalam penafsirannya. Atau kalo Anda mau membuktikan bahwa di dasar sungai itu betul2 ada emas, silakan membuktikan secara ilmiah. Jangan hanya taqlid buta saja. Bagi saya pribadi, ’emas’ modern ya minyak itu. Minyak itu harganya bahkan lebih tinggi dari emas sendiri. Bahkan minyak bisa untuk membeli emas. Dan sekarang janji Tuhan betul2 terbukti, setiap hari ada saja yang tewas di Irak. Semua ini karena apa? ya karena keserakahan Amerika dkk yang mengincar minyak Irak yang melimpah.

      Wallahua’lam…

      Komentar oleh Agung Afgani Yosi | Mei 31, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: