Sawah Pencerahan Agung Afgani

Lahan Menggapai Kebebasan Berpikir

Kebenaran Itu Hanyalah Tuhan Semata…

Salam…

 

Pada tanggal 17 Maret 2008, saya dan seorang kawan menghadiri acara diskusi yang merupakan salah satu agenda dari rangkaian acara dalam rangka Ultah ke-7 JIL, yang diselenggarakan di Teater Utan Kayu, Jakarta Timur. Dalam diskusi berjudul Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan : Perspektif Agama-agama, yang menjadi pembicara adalah KH. Husein Muhammad, Romo Franz Magniz Suseno, Martin Lukito Sinaga. Saya cenderung mendapat banyak pelajaran baru dari situ. Yang pertama adalah Bagaimana kebenaran yang riil itu hanyalah di tangan Tuhan semata. Manusia tidak berhak mengklaim bahwa bahwa dirinyalah yang paling benar. Karena jelas dengan klaim tersebut, dia bisa menantang Tuhan itu sendiri. Jika seorang manusia betul-betul beriman dan melakukan perintah Tuhan maka semakin toleran manusia tersebut. Dengan asumsi bahwa adalah sebuah kekeliruan bahwa manusia itu mengklaim diri dan pemikirannya yang paling sesuai dengan apa kehendak Tuhan. Bahkan Romo Magniz sendiri sempat berkelakar, “Jika ingin tahu apa-apa yang benar oleh Tuhan, ya sana tanya Tuhan sendiri. Itu sudah urusan yang di sono (sambil menunjuk ke arah atas, maksudnya Tuhan). Saya tidak punya jalur telepon khusus dengan Tuhan. Jadi saya gak tahu apa-apa yang benar menurut Tuhan.” Gerr… Ada-ada saja Romo ini.

 

Tapi saya pikir itu memang benar. Kalau kita melihat kejadian akhir-akhir ini, sungguh miris hati saya ini. Bagaimana para pengikut Ahmadiyah sudah tidak bisa melaksanakan kegiatan ibadahnya hanya karena sekelompok orang yang mengaku paling benar dan lurus akidahnya. Masya Allah… Koq ya masih ada orang berpikiran cupet kayak gitu. Tapi saya yakin kebanyakan dari orang-orang itu ga tahu apa-apa. Mereka itu hanya ikut-ikut saja. Atau malah ada yang dibayar untuk ikut barisan untuk meneror Ahmadiyah?!! Wallahua’lam… Yang paling bikin saya mengelus dada lagi ketika masjid Ahmadiyah dibakar sekelompok orang biadab. Ada nash yang mengatakan orang-orang yang membakar masjid dengan sebutan orang munafik, dan Tuhan melaknatnya. Rasulullah dan sahabatnya sendiri tidak pernah merobohkan masjid orang munafik di pinggir kota Madinah. Tuhan hanya memerintahkan untuk menghindarinya. Mungkin Tuhan bilang begini, “Urusan untuk merobohkan, itu urusan Saya sendiri. Itu hak prerogatif Saya.” Lalu kenapa kemarin ada yang tega membakar masjid?! Mari kita beristighfar, rupanya ada orang yang mau jadi Tuhan. Astaghfirullah.. Naudzubillah…

 

Pelajaran kedua adalah bagaimana sadarnya saya tentang Maha Besarnya Tuhan itu. Tuhan adalah hakim dari segala hakim. Dialah Sang Kemahabenaran itu. Tak ada makhluknya yang berani mengklaim tentang kebenaran itu. Inilah mungkin yang disebut poin titik balik ranah ketauhidan dalam diri saya. Jika kita mengacu pada pola pikir Mu’tazilah yang bisa mertangkum jalan pikiran para mutakallim dan filsuf, bahwa ada keterkaitan antara nash dan akal dalam memahami Tuhan itu. Satu dan yang lain tak dapat terpisahkan. Kita tidak bisa memahami wahyu secara literer saja, seperti yang dilakukan para fundamentalis, yang justru akan merusak sisi harmonis agama dalam bermasyarakat. Kita juga wajib menggunakan akal untuk mentakwilkan wahyu tersebut. Menurut saya, hal ini penting untuk men-down to earth-kan wahyu tersebut. Proses desakralisasi wahyu. Dalam pikiran saya, wahyu memang diturunkan untuk manusia oleh Tuhan, sehingga dia harus berupa bahasa manusia bukan bahasa Tuhan. Biarkan wahyu itu membimbing manusia untuk menjadi manusia melalui bahasa manusia. Bukan memprovokasi manusia untuk menjadi Tuhan hanya karena manusia sering membaca wahyu dalam bahasa Tuhan, dan kemudian dengan sok menghakimi manusia lain. Diharapkan dengan penggunaan akal dalam pentakwilan wahyu, manusia dapat menghormati posisi Tuhan dan manusia yang lain.

 

Ini hanya berandai-andai saja, lho.. Kalau saya jadi Tuhan, tentu saya akan cemburu dan marah dengan orang yang merebut ranah-ranah yang seharusnya menjadi milik saya. Justru hal inilah yang dapat mengakibatkan tumbuhnya sistem tirani. Manusia sudah sedemikian lupa dengan posisinya dan dengan seenaknya menjajah wilayah Tuhan. Manusia tiran ini dengan seenak udelnya sendiri menjajah yang lain. Dan karena ini Tuhan jadi punya alasan untuk menurunkan azab pada manusia. Apa anda ingat bagaimana sejarah penyerbuan Hulagu Khan ke Baghdad yang pada waktu itu sebagai pusat kekhalifahan Abbasiyah? Tentara Hulagu Khan membantai semua Muslim yang ditemui tanpa pandang bulu. Hingga digambarkan bahwa Baghdad mengalami banjir darah sampai setinggi lutut. Yang jadi pertanyaan buat kita, koq sampai tega Tuhan berbuat itu pada umat Muhammad yang mulia? Kalau menurut saya simpel saja, ya itu hukuman Tuhan untuk para tiran. Para manusia yang merasa benar sendiri dan dengan asumsi itu mereka menindas yang lain. Ingat!! Tuhan tidak serta merta menurunkan azab hanya karena kekufuran. Tuhan pernah bersabda kalau seumpama saja seisi dunia ini tidak menyembah-Nya, Dia gak akan rugi seujung kuku pun. Justru yang rugi manusia itu sendiri. Ini kata Tuhan lho, bukan kata saya. Tapi, dalam nash-nya juga, Tuhan mengancam para tiran dengan siksa yang pedih. Gak percaya?! Sono tanya sama Firaun Ramses II. Dia udah ngalamin rasanya disiksa Tuhan gara-gara dia berbuat tiran.

 

Sahabat, setiap apa-apa yang diciptakan oleh Tuhan adalah suatu ketidaksiasiaan. mengikuti salah satu sifat-Nya yang Maha Besar. Sangat mustahil bin mustahal, jika Sang Maha Besar menciptakan kesiasiaan. Hal itu bisa mencoreng reputasi Tuhan sendiri. Ahmadiyah, dan kelompok pemikiran lain, diciptakan Tuhan untuk menyatakan kebesaran-Nya. Menyatakan tentang bagaimana Tuhan sebagai pluralis sejati dan hakiki. Tuhan menyukai heterogenitas atau pluralitas bukan homogenitas yang dipaksanakan. Itulah Tuhan saya yang Maha Besar. To be honest, saya sangat sayang pada-Nya. Mudah-mudahan tulisan yang tak berarti ini dapat menjadi saksi positif bagi saya di yaum al-din nanti. Amin…

 

Wallahua’lam bishawab…

 

Salam sejahtera bagi kita semua…

 

-Agung Afgani-

Iklan

Mei 10, 2008 - Posted by | Tulisan-tulisan |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: